Hmmfh!!!!! Bingung dengan kata-kata di atas? Oke, mari kita bahas mengapa sistem
saraf kita menolak pornoaksi dan pornografi...
Sistem saraf manusia
Sistem saraf dalam tubuh kita merupakan suatu jaringan yang kompleks. Sistem ini mengatur, mengkoordinasikan dan mengendalikan interaksi seorang individu dengan lingkungan sekitarnya. Sistem tubuh yang penting ini juga mengatur sebagian besar aktivitas tubuh lainnya. Tubuh mampu berfungsi sebagai satu kesatuan yang harmonis karena pengaturan hubungan saraf di antara berbagai sistem. Fenomena
mengenai kesadaran, daya pikir, daya ingat, bahasa, dan sensasi dan gerakan
semuanya berasal dari sistem ini. Oleh karena itu, kemampuan untuk memahami
dan berespons terhadap rangsangan merupakan hasil dari integrasi fungsi sistem
saraf, yang memuncak dalam kepribadian dan prilaku seseorang. (PATOFISIOLOGI
Price-Wilson volume 2, Bab 50, halaman 1006)
Sistem saraf yang terdiri dari sel saraf (neuron) ini sangat peka terhadap rangsangan
yang timbul dari reseptor sensorik. Rangsangan sensorik ini dapat berupa rangsang
penglihatan, suara, bau, dan rangsang psikis lain (Anatomi Klinik Snell
bagian 2, hal.95).
so, sangat jelas, logis dan tidak dapat dipungkiri bahwa pornografi dan pornoaksi
adalah bentuk rangsangan seksual yang dapat mempengaruhi kepribadian dan prilaku
seseorang. Ketika adanya rangsangan (seksual) yang timbul, mau tidak mau sistem
saraf manusia yang normal secara otomatis langsung menghantarkan impuls ini
sebagai sinyal dan akan mengakibatkan rangsang kuat pada susunan saraf pusat
kemudian akan diteruskan ke sistem parasimpatis segmen sacralis II, III dan
IV. Ketika rangsangan semakin kuat hal ini akan dapat mengakibatkan ereksi pada
pria.
Respon Rangsang Sensorik
Diatas telah disebutkan bahwa kemampuan untuk mengolah rangsang yang timbul
menimbulkan bentuk kepribadian dan prilaku. Jelas, setiap orang mempunyai persepsi
yang berbeda-beda dalam menerima rangsangan. Orang yang memiliki
’tameng hati’ yang kuat ketika melihat suatu bentuk pornoaksi dan pornografi mungkin langsung memalingkan muka dan beistighfar. Karena dia sadar selain hal itu dilarang oleh agama juga sebagai manusia normal, mau tidak mau si ’sistem saraf’ sudah bekerja dan menimbulkan sensasi seksual dalam dirinya. Adalah hal yang mustahil ketika seorang laki-laki mengatakan
ia biasa-biasa aja ketika melihat pornografi dan pornoaksi di depan matanya....
hmm...kemungkinannya ada sedikit gangguan respon rangsang sensorik pada laki-laki
tersebut.
Ketika saraf sensorik (yang menerima rangsangan) dipaparkan terus menerus oleh
rangsang seksual yang sudah menjamurdi Indonesia (bahkan ditonton oleh jutaan pasang mata baik di televisi atau menonton langsung)....adalah HAL YANG SANGAT MUNGKIN PADA SAAT ITU JUTAAN MANUSIA (LAKI-LAKI) MENGALAMI RANGSANG SEKSUAL YANG BESAR....na’udzubilah min
dzallik....
Dampak pornografi dan pornoaksi
Sudah sangat sering kita lihat di televisi, mendengar radio, dan membaca di
koran-koran kasus perkosaan yang terjadi setelah para pelaku mononton blue film
(pornoaksi) atau membaca buku-buku porno (pornografi).
So, sudah sangat jelas bukan dampak (yang sangat mengerikan) dari pornografi
dan pornoaksi? Itu terjadi karena kita adalah manusia, yang diberikan hawa nafsu.
Kita bukan malaikat, bahkan sekuat apapun iman kita hawa nafsu (yang dirangsang
dari lingkungan tentunya..) akan dapat mempengaruhi perilaku kita...
Jika kita manusia normal, yang menyadari dengan sesadar-sadarnya kapasitas kita
sebagai manusia...Sudah seharusnya kita menentang pornografi dan pornoaksi...
Seperti lagu yang sering dinyanyikan...
“laki-laki juga manusia...”
menghambat kebebasan wanita?
Layaknya barang yang berharga, tentunya akan dijaga dan dilindungi dari segala
macam ancaman. Tubuh wanita adalah sesuatu yang berharga tinggi...apakah sebagai
wanita kita mau harga yang tinggi ini menjadi turun karena tidak dijaga sebagaimana
mestinya?
Hmm...Let ur fresh mind thinking.....
Dampak jangka panjang dari Pornografi dan pornoaksi
Semua reseptor sensorik memiliki sifat khusus, yaitu mereka dapat beradaptasi
dengan baik terhadap rangsangan secara sebagian atau keseluruhan sesudah periode
waktu tertentu. Sehingga berdasarkan sifat adaptasi ini, maka reseptor pada
mulanya akan berespons terhadap rangsangan dengan kecepatan impuls yang tinggi.
Tetapi bila rangsangan sensorik tersebut diberikan secara terus menerus, maka
reseptor tersebut kemudian secara progresif akan berkurang sampai akhirnya reseptor
itu sama sekali tidak berespon terhadap rangsangan.
Beginilah reseptor saraf kita, sebuah substansi yang begitu luar biasa, menyampaikan
jawabannya pada kita semua. Betapa penting bagi reseptor akan adanya pembatasan
waktu ”perjumpaan” dengan neurotransmitter (zat kimia penyampai
rangsangan) sebagai dampak dari rangsangan yang ia terima agar ia tetap dapat
bekerja dengan optimal.
Analoginya dengan perdebatan pornoaksi dan pornografi: tubuh kita adalah reseptor
dari tiap rangsangan yang ada di lingkungan kita. Sedangkan pornoaksi dan pornografi
sendiri merupakan salah satu rangsangan yang akan kita terima. Pada awalnya,
rangsangan seksual yang diterima tubuh dalam kadar yang benar (sesuai dengan
norma agama) akan direspon tubuh dengan kecepatan impuls yang tinggi dan tentunya
respon seksual ini akan menjadi sebuah perhargaan pada keagungan Allah SWT.
Namun, dengan adanya pornografi dan pornoaksi akan cenderung memfasilitasi pengumbaran
rangsangan seksual yang kemudian akan menyebabkan respon dan kepekaan tubuh
kita terhadap rangsangan seksual berkurang secara progresif. Selain itu, rangsangan
seksual akan menjadi sesuatu hal yang biasa dan tidak akan lagi direspon oleh
tubuh kita.
Well, ini mungkin dapat menjelaskan mengapa ada beberapa orang (man of course!)
yang mengatakan bahwa dia biasa-biasa saja melihat ketika menyaksikan pornografi
dan pornoaksi…. .Jawabannya:reseptornya sudah kelelahan merespon rangsangan
yang ada (karena sudah terlalu sering dipaparkan)…
Maka saat itu tak akan ada lagi laki-laki yang terpikat pada seorang wanita
karena wanita pada masa itu akan menjadi sesuatu yang biasa dan pernikahan tidak
lagi menjadi suatu hal yang agung. Tidak ada pernikahan, maka tidak ada keturunan.
Dan bersiap-siaplah pada habisnya generasi bangsa kita!!!
Orang cerdas bukan hanya orang yang berpikir
Namun cerdas adalah ketika hasil pemikirannya
dapat mempengaruhi hidupnya
Mau jadi orang cerdas????
Atau hanya menjadi orang yang mengikuti keinginan diri? Semau gue? Terserah
gue?
Well.....that’s ur choice....
baca selanjutnya yuk..